Rabu, 26 Desember 2012

0 Kondisi Kutub Selatan Kian Mengkhawatirkan

Headline 


Paris - Studi terbaru menyatakan bahwa kondisi di Kutub Selatan semakin mengkhawatirkan. Benarkah?












Diwartakan RawStory, studi terbaru menyatakan bahwa lapisan es di Kutub Selatan bagian barat, yang pencairannya menyebabkan naiknya permukaan air laut hingga 10% itu disebabkan oleh perubahan iklim, dan naiknya pun dua kali lipat dari dugaan semula.
Sementara analisis ulang dari catatan suhu 1958-2010 menyatakan bahwa suhu juga naik 2,4 derajat celsius selama periode tersebut.
"Kenaikan di atas juga hampir dua kali lipat dari hasil penelitian sebelumnya," ungkap David Bromwich dari Byrd Polar Research Center.
"Jika pencairan di Kutub Selatan ini terus berlanjut, maka tingkat permukaan air laut bakal terus meningkat," tambah Bromwich.

sumber : rawstory

artikel lainnya :
Benarkah Bumi Akan Gelap 3 Hari?
Bukti Baru "Kiamat" Masa Lalu
Ilmuan NASA ‘Menemukan’ Terompet Sangkakala Malaikat Israfil
"Armageddon" Mungkin Terjadi di Selat Sunda

0 Korut Miliki Teknologi Misil Balistik Canggih?


 Headline

Seoul - Kepingan roket yang ditembakkan Korea Utara beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa negara komunis itu memiliki teknologi misil balistik canggih. Benarkah?





Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengatakan bahwa tetangga mereka, Korea Utara, mengembangkan roket yang mampu menempuh jarak 10 ribu kilometer, sambil membawa hulu ledak seberat lebih dari 500 kilogram.
Hal tersebut berdasarkan analisa mereka terhadap kepingan roket yang ditemukan di perairan Korea Selatan baru-baru ini.
"Berdasarkan analisa dan pengamatan kami, roket yang ditembakkan oleh Pyongyang dapat mencapai sasaran hingga 10 ribu kilometer dengan membawa hulu ledak antara 500 hingga 600 kilogram. Dengan daya jelajah demikian, misil balistik milik Korea Utara itu akan mampu mencapai Amerika Serikat," ujar seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korea Selatan seperti dikutip FoxNews.
Namun pejabat tersebut mengatakan kecil kemungkinan bahwa Korea Utara berhasil mengembangkan teknologi membuat bom nuklir yang cukup kecil dan bisa dipasang pada misil.
Sementara itu, pihak Korea Utara menyatakan bahwa roket yang mereka ujicobakan pada 12 Desember 2012 itu bukan bertujuan peperangan, melainkan untuk menempatkan sebuah satelit cuaca di orbit.

sumber : Foxnews


Artikel lainnya :
Inilah Bus Unik Tingkat London yang Bisa "Push Up"
Robot Mobil Israel Buatan AS Untuk Hajar Hamas Di Jalur Gaza 
Ini Dia Superkomputer Tercepat di Dunia
Pesawat Luar Angkasa Rahasia Terbaru


0 Astronot Kanada Rekam Lagu di Luar Angkasa

Headline


California - Astronot asal Kanada bernama Chris Hadfield menjadi orang pertama yang berhasil merekam komposisi lagu di luar angkasa.
Chris Hadfield adalah seorang astronot yang sedang dalam pelatihan untuk menjadi komandan Ekspedisi 35 di Stasiun Luar Angkasa Internasional.
Hadfield membuat momen bersejarah yang berhasil direkam di video lewat lagu bertemakan Natal berjudul Jewel in The Night yang kemudian di-posting di YouTube.
Ia kemudian menceritakan tantangan merekam lagu di luar angkasa. "Suasana di stasiun luar angkasa sangatlah berisik, jadi kedengarannya seperti bermain musik di bagian belakang sebuah bus,” papar Hadfield seperti yang dinukil dari Ubergizmo.
Menurutnya, momen terbaik yang dialaminya adalah ketika gitar yang ia mainkan mengapung di hadapannya.
"Jika seperti itu, bahkan Anda pun tidak perlu lagi strap gitar. Anda harus belajar lagi bagaimana membuat kord-kord lagu, tanpa berat, jarak lengan Anda yang sulit dikontrol, dan dalam posisi badan yang sulit," ujarnya.
Untuk sekarang, Hadfield dapat sedikit bersantai dengan bermain musik. Tetapi setelah Ekspedisi 35 berakhir dan akan dimulai misinya baru pada Maret 213, Hadfield mungkin tidak memiliki waktu luang lagi untuk merekam lagu-lagu lainnya.

sumber : inilah.com

Artikel lainnya :
Inilah Bus Unik Tingkat London yang Bisa "Push Up"
Robot Mobil Israel Buatan AS Untuk Hajar Hamas Di Jalur Gaza 
Ini Dia Superkomputer Tercepat di Dunia
Pesawat Luar Angkasa Rahasia Terbaru


Selasa, 25 Desember 2012

0 "Armageddon" Mungkin Terjadi di Selat Sunda


 

Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam Andi Arief mengatakan, tak menutup kemungkinan armageddon atau hari kiamat terjadi di Selat Sunda dalam waktu yang tak bisa diprediksikan.
Sebelumnya, Andi memperkirakan akan terjadi gempa berkekuatan 8,7 skala Richter di Selat Sunda. "Kejadian di Aceh, Merapi, di Selat Sunda, ini sepertinya gempa-gempa dan letusan gunung api purba, bukan jenis gempa yang datang dalam 100-200 tahun. Itulah mengapa, sekarang ini, juga melalui Kementerian PU, sedang dihitung kembali karena kita takut lebih, jangan-jangan bukan gempa 8,7 SR, tapi 9,0 SR," ujarnya.
"Kalau 9 SR, saya berulang kali bilang, jangan-jangan itu bisa armageddon di Selat Sunda. Tapi, pengetahuan ini bukan untuk menghentikan pembangunan Selat Sunda," kata Andi kepada para wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (18/5/2011).
Andi membantah pemberitaan media bahwa dirinya mengatakan akan terjadi gempa yang melanda Jakarta. Menurutnya, gempa berkekuatan 8,7 SR akan terjadi di Selat Sunda. Gempa ini akan memengaruhi ke daerah-daerah di sekitar Selat Sunda, termasuk Jakarta.
Andi mengatakan, dirinya telah melaporkan kepada Presiden mengenai kemungkinan terjadinya gempa. Presiden pun menginstruksikan untuk mengkaji ulang hasil penelitian tersebut.

sumber : Kompas

Baca Juga :

0 Bukti Baru "Kiamat" Masa Lalu



Bicara soal kematian massal makhluk hidup, ada satu hipotesis yang berkembang dan disebut hipotesis tumbukan Younger Dryas. Berdasarkan hipotesis tersebut, kematian massal makhluk hidup terjadi di Amerika Utara pada 12.900 tahun lalu akibat tumbukan benda luar angkasa.
Teori itu menyebutkan bahwa komet atau asteroid yang diduga menjadi penyebab "pembunuhan massal" itu menumbuk permukaan Bumi, membakar vegetasi, memusnahkan hewan, mencairkan batuan, mengurangi populasi manusia, dan menghancurkan kebudayaan. Guru besar ilmu Bumi dari University of California di Santa Barbara, James Kennet, menemukan bukti kepunahan massal tersebut.
Dalam penelitian sebelumnya, telah terungkap bahwa bukti kejadian ini ditemukan di beberapa lokasi di Amerika Utara, Greenland, dan Eropa Barat. Kali ini, bukti ditemukan di endapan tua berusia hampir 13.000 tahun di Danau Cuitzeo di tengah Meksiko. Ini adalah bukti pertama yang ditemukan di wilayah Meksiko.
Penelitian itu mengungkap fakta bahwa sedimen tersebut mengandung berlian nano yang langka, butir-butir bekas tumbukan, serta material lain yang mungkin bisa dihasilkan lewat tumbukan benda luar angkasa.
"Kami telah mengevaluasi beberapa hipotesis untuk menilai kembali hasil observasi ini dan menemukan bahwa bukti ini tak bisa dijelaskan dengan mekanisme terestrial. Ini konsisten merujuk pada hipotesis Younger Dryas yang melibatkan ledakan dan tumbukan pada 12.900 juta tahun lalu," ungkap sang ilmuwan dalam publikasinya di Proceedings of the National Academy of Sciences baru-baru ini.

Kennet, seperti dikutip Discovery, Rabu (14/3/2012), mengatakan, "Hasil ini konsisten dengan penemuan yang dilaporkan sebelumnya di Amerika Utara bahwa ada perubahan ekosistem, kepunahan satwa, perubahan budaya, dan penurunan populasi manusia."

Sumber : DISCOVERY


Baca Juga :

0 Partikel Tuhan Terkait Kiamat?

Ada spekulasi yang berkembang di tengah eksperimen Large Hadron Collider (LHC) di Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN).
Spekulasi menyatakan bahwa eksperimen pencarian Partikel Tuhan di LHC bisa menciptakan lubang hitam mini yang bisa menelan Bumi dan mengakibatkan kiamat. Benarkah?
Ini memang bukan isu baru. Sejak LHC dibangun, isu tersebut sudah muncul.
Situs The Telegraph pada 26 Juli 2011 lalu sempat mengulas hal ini. Dinyatakan bahwa sampai penemuan partikel yang konsisten dengan Higgs Boson atau disebut Partikel Tuhan pada Rabu (4/7/2012) lalu, eksperimen belum menghasilkan lubang hitam.

Ada anggapan bahwa tak dihasilkannya lubang hitam disebabkan karena daya mesin yang masih setengah dari yang direncanakan. Pada akhir tahun ini, daya LHC akan di-upgrade lagi untuk menghasilkan energi lebih besar.

Namun, dengan energi penuh sekalipun, ilmuwan CERN meyakini bahwa eksperimen di LHC tak bisa menciptakan lubang hitam. Bahkan jika bisa sekalipun, lubang hitam itu sangat kecil dan segera lenyap dalam 10-26 detik. Jadi tak akan mengakibatkan kiamat.

Fisikawan dan kosmolog Stephen Hawking menyatakan, kekuatan LHC adalah "kerikil" dibandingkan kekuatan yang ada di alam semesta.

0 Ancaman Utama Bumi Bukan Kiamat, tetapi Manusia

 


Belakangan, isu kiamat pada 21 Desember 2012 mengemuka, didasarkan pada interpretasi yang salah akan kalender suku Maya. Isu tersebut membuat sejumlah orang khawatir, bahkan sulit tidur. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA pun kebanjiran surat elektronik yang menanyakan perihal akhir dunia itu.

Merasa perlu mengklarifikasi, NASA membuat tanggapan tentang sebab-sebab kiamat seperti yang beredar di jejaring sosial. Sebab-sebab kiamat di antaranya adalah adanya benda langit yang akan menghantam Bumi dan badai Matahari yang mematikan.

Peneliti Matahari NASA, Lika Guhathakurta, mengatakan bahwa Matahari memang sedang pada puncak aktivitasnya akhir-akhir ini. Badai Matahari memang bisa merusak sistem komunikasi, tetapi sejumlah perangkat telah dikembangkan untuk memberi peringatan. Badai Matahari tak mengancam jiwa manusia secara langsung.

Sementara itu, tentang planet, asteroid atau apa pun yang akan menabrak Bumi, Don Yeomans dari Jet Propulsion Laboratory NASA mengatakan, satu-satunya benda dekat Bumi yang akan melintas dekat adalah asteroid pada 13 Februari 2013. Namun, asteroid melintas pada jarak 6.378 kilometer, takkan menghantam Bumi.

NASA juga menyatakan bahwa isu Bumi akan gelap pada 23-25 Desember 2012 hanyalah isapan jempol. NASA tak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut. Sementara itu, kesegarisan semua planet di Tata Surya pada satu waktu yang dikatakan menjadi sebab fenomena itu juga tak mungkin terjadi.

Andrew Fraknoi, astronom di Foothill College, California, mengatakan, lebih baik manusia fokus pada masalah Bumi yang memang sedang dihadapi saat ini, seperti perubahan iklim. Mitzi Adams, pakar Matahari di NASA, juga menyetujuinya.

"Ancaman terbesar Bumi pada tahun 2012, pada akhir tahun ini dan di masa depan, adalah dari ras manusia itu sendiri," kata Adams, seperti dikutip Livescience, Rabu (28/11/2012). Jika manusia tak berubah, perubahan iklim tak terelakkan,  kepunahan banyak spesies makhluk hidup niscaya terjadi.

 

Journal Teknologi dan Pengetahuan Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates